Joint Use Forum »

Sejarah Pencak Silat

(1 post)
  • Started 6 months ago by inspiring

Tags:

  1. Sejarah Singkat Pencak Silat

    Apa definisi Pencak Silat?

    Nama resmi yang digunakan untuk menunjukkan lebih dari 800 sekolah dan gaya bela diri yang tersebar di lebih dari 13.000 pulau di Indonesia disebut "pencak silat". Namun, ini sebenarnya adalah nama majemuk yang terdiri dari dua istilah yang digunakan di berbagai daerah. Kata "pencak" dan turunan dialektiknya seperti "penca" (Jawa Barat) dan "mancak" (Madura dan Bali) biasa digunakan di Jawa, Madura dan Bali, sedangkan istilah "silat" atau "silek" digunakan dalam Sumatra.

    Ambisi untuk menyatukan semua ekspresi budaya yang berbeda ini dalam terminologi umum sebagai bagian dari menyatakan kesatuan dan kemerdekaan Indonesia dari kekuasaan kolonial, pertama kali diungkapkan pada tahun 1948 dengan dibentuknya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Namun, hal itu hanya bisa direalisasikan pada tahun 1973 ketika perwakilan dari berbagai sekolah dan gaya akhirnya secara formal menyetujui penggunaan "pencak silat" dalam wacana resmi, walaupun istilah aslinya masih banyak digunakan di tingkat lokal.

    Apa asal mula Pencak Silat?

    Tidak mudah menelusuri sejarah pencak silat karena dokumentasi tertulis terbatas dan informasi lisan diturunkan dari guru atau guru. Setiap wilayah di nusantara memiliki versi asalnya sendiri yang sebagian besar berbasis tradisi lisan. Mitos Melayu sependapat bahwa pencak silat pada awalnya dikembangkan oleh kelompok kesukuan di nusantara melalui pengamatan pergerakan hewan dan fenomena alam lainnya, dalam upaya untuk membela diri dari makhluk liar dan bahaya lingkungan lainnya. Dalam perjalanan waktu, pencak silat akhirnya menjadi alat dalam mencapai status sosial saat bertarung di antara kelompok suku, klan, masyarakat dan kerajaan selanjutnya. Karena kemampuannya seseorang dapat ditakuti dan dihormati oleh masyarakat sekitar, dan mendapat pamor dan kekuatan politik.

    Pencak silat sebagai pembelaan diri selalu ada sejak manusia harus berkelahi satu sama lain dan dengan binatang liar agar bisa bertahan. Pada saat itu, orang-orang yang kuat dan terampil dalam berperang bisa mencapai posisi istimewa di masyarakat, dan bisa menjadi kepala klan atau komandan tentara. Dalam jangka panjang, teknik pertarungan mulai diatur, sehingga bentuk bela diri yang komprehensif dikembangkan yang akhirnya disebut pencak silat. (Asikin 1975: 9-10)

    Penguburan terjadi karena kelompok masyarakat mulai saling berkelahi untuk menguasai kekuasaan. Dalam upaya untuk memperluas wilayah yang ditaklukkan, kerajaan diciptakan. Untuk mempertahankan dan memperluas kekuatan kerajaan-kerajaan ini, pertahanan diri, dengan atau tanpa senjata, dikembangkan. (Liem, 1960: 38-40)

    Kapan, dimana dan bagaimana proses sistematisasi ini mulai tidak ada yang tahu. Apa yang bisa dikumpulkan dari sedikit informasi yang ada adalah bahwa pencak silat berkembang dari akulturasi berbagai gaya bela diri, yang telah berkembang secara lokal dengan nama yang berbeda dan dengan karakteristik yang berbeda.

    Peran Pencak Silat dalam Sejarah

    Pencak silat memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia. Sejak zaman kerajaan Hindu-Budha kuno seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Kerajaan Sunda, kerajaan ini menggunakan pencak silat untuk melatih tentara dan pejuang mereka.

    Bukti arkeologi menunjukkan bahwa pada abad keenam Masehi diformalkan sistem agresif sedang dipraktekkan di wilayah Sumatera dan semenanjung Melayu. Dua kerajaan, Sriwijaya di Sumatra dari abad ke-7 sampai ke-14 dan Majapahit di Jawa dari abad ke-16 sampai ke-16 memanfaatkan keterampilan bertarung ini dengan baik dan mampu memperluas kekuasaan mereka di sebagian besar wilayah yang sekarang menjadi Indonesia, Malaysia dan Singapura. .

    Menurut tradisi Minangkabau, Silek (pencakar silat Minangkabau) mereka bisa dilacak ke depan bapak orang Minangkabau kuno, Datuk Suri Dirajo. Dikatakan bahwa menurut syair Jawa kuno, Kidung Sunda, penjaga Sunda Prabu Maharaja menunjukkan keahlian yang hebat dalam seni pencak silat saat mereka mengantar Putri Dyah Pitaloka ke Majapahit sebagai calon pengantin untuk Raja Hayam Wuruk, dan menghadapi penghinaan bahwa Sangat menghina kehormatan mereka [2]. Dalam pertempuran yang terjadi di lapangan Bubat (1346), pasukan Sunda berjuang melawan tetes darah terakhir, menggunakan gerakan pencak silat khusus dan berbagai senjata. Meskipun gaya pencak silat yang digunakan dalam pertempuran berbeda, kita masih dapat menarik kesimpulan bahwa di kerajaan Jawa di seantero nusantara, pencak silat berfungsi dengan baik: untuk mempertahankan,

    Berbeda dengan gaya Pencak Silat

    Tidak ada standar keseluruhan untuk Pencak Silat. Setiap gaya memiliki pola pergerakan tersendiri, teknik yang dirancang khusus dan pemikiran taktis. Kekayaan istilah mencerminkan keragaman gaya dan teknik di seluruh wilayah karena pencak silat telah dikembangkan oleh berbagai master yang telah menciptakan gaya mereka sendiri sesuai dengan preferensi dan lingkungan fisik dan konteks sosial budaya mereka. mereka tinggal. Misalnya Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Barat.

    Jawa Barat dihuni oleh kelompok etnis tertentu dengan norma budaya dan sosial tertentu. Bagi mereka, pencak silat adalah bagian dari cara hidup mereka atau seperti yang mereka katakan, "darah di tubuh mereka". Dalam bahasa mereka mereka mengatakan "penca" atau "menpo" (dari "maen poho", yang secara harfiah berarti bermain dengan tipu daya) untuk menunjukkan empat gaya utama Cimande, Cikalong, Timbangan, dan Cikaret dan semua sekolah dan teknik yang berasal dari Mereka orang Sunda selalu memanfaatkan penca / menpo untuk bela diri dan rekreasi, dan baru belakangan ini mulai menggunakannya sebagai olahraga dalam kompetisi nasional dan regional.

    Aspek bela diri (self-defense) dari penca bisa sangat berbahaya. Oleh karena itu dirahasiakan, terutama aspek mistisnya dimana hanya siswa terpilih yang diajarkan secara bertahap. Penca sebagai seni (penca ibing) telah menjadi sumber inspirasi bagi tarian tradisional Sunda seperti Jaepongan, Ketu'tilu ', Dombret, dan Cikeruhan dan sebenarnya menyerupai tari dalam penggunaan alat musik. Instrumen ini, yang disebut "pencak drummers" (gendang penca), dikhususkan untuk pertunjukan penca dan terdiri dari dua set drumer (gendang anak dan kulantir), terompet (tetet) dan gong. Pertunjukan pencak juga menggunakan ritme musik standar seperti tepak dua, tepak tilu, tepak dungdung, golempang dan paleredan. Penca sebagai seni tidak dianggap berbahaya dan bisa ditunjukkan secara terbuka kepada semua orang.

    Posted 6 months ago #

RSS feed for this topic

Reply

You must log in to post.